Nostalgia dengan Naik Sepeda Tua

Rely Gondok Asli Rp 3 Juta

SEKITAR dekade 1960-an hingga 1970-an, penampilan seseorang bisa diukur dari sepeda yang mereka naiki. Jika mereka naik sepeda merek Rely Gondok dan bertopi garbus ala cowboy, langsung bisa ditebak bila dia berstatus sosial tinggi atau orang kaya.

Kala itu yang biasa memakai sepeda Rely Gondok, Northon, Gazele, Simplek, Fongres, atau Gimbar muncul dari kalangan orang berduit. Mereka biasanya juragan bawang merah, mandor tebu, sinder tebu, dan kalangan atas berpenghasilan besar.

Dengan bunyi sepeda yang khas, cek…cek…cek, memang lain dengan sepeda biasa. Kerangka sepeda juga memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan sepeda model sekarang. Potongan lebih kukuh, baik sepeda laki-laki maupun wanita. Pada jok tepat duduk menggunakan bahan kulit tebal dan setang melengkung ke belakang. Mereka yang menggunakan sepeda itu untuk zaman sekarang barangkali sama dengan kendaraan roda empat sekelas Toyota Kijang atau Izusu Panther.

”Dahulu bila tak sekelas majikan atau juragan, tak bakalan naik sepeda mahal lantaran sepeda motor belum begitu banyak,E” papar Mikrad (50), belantik sepeda asal Desa Pamengger, Jatibarang, Brebes.

Sekarang masihkan sepeda-sepeda tua itu? Nuridin yang biasa mangkal di pinggiran jalan Kota Jatibarang menuturkan, jenis sepeda itu menjadi barang langka. Mencarinya juga harus di pedagang sepeda bekas. Di Kota Brebes bisa dijumpai di Jalan AR Hakim dan Jalan Letjen Soeprapto, lokasi mangkal para belantik sepeda. Di sekitar Kota Bumiayu, di jalan menuju Kecamatan Bantarkawung khususnya pada hari pasaran wage. ”Di Kota Jatibarang, belantik sepeda kuno bertebaran di sepanjang jalan dan di belakang pasar,E” ujar Udin, warga Jatibarang.

Harga Bervariasi

Warno, pedagang sepeda bekas di Jatibarang mengungkapkan, harga sepeda kuno bervariasi mulai dari Rp 500.000 sampai tertinggi Rp 1,5 juta. Tapi bila ada juga yang masih bagus dan semua onderdil orisinil bisa Rp 3 juta. Yang unik dari sepeda tua itu, pemilik umumnya membiarkan cat sepeda dalam bentuk orisinil. Perangkat lampu, bos (baterai), dan sadel (jok) tetap dibiarkan seperti kondisi awal.

”Meski warna cat diubah menjadi lebih mulus tak akan mendongkrak harga,E” papar mereka.

Sukardi, salah seorang perangkat desa, bercerita tentang sepeda kunonya. Tiga puluh tahun silam, dia naik sepeda merek Gazele yang waktu itu menjadi incaran orang berduit. Karena saking gagahnya bersepeda mahal waktu itu, dia bisa memboncengkan gadis kembang desa.

Kendati kini menjadi barang langka, onderdil sepeda merek kuno masih bertebaran. Sayang, kualitas onderdil keluaran baru kurang baik. Selain kekuatan beda jauh, barang baru krumnya cepat kusam. Untuk mengetahui sepeda tua itu orisinil atau tidak, mereka melihatnya dari nomor seri, dan cap atau lebel pada bagian depan kerangka. Cap itu tak bisa dipalsu, makin kuno tahun pembuatannya makin jadi kejaran pemburu barang antik.

Salah seorang yang gemar mengoleksi sepeda tua adalah Teguh, warga Perumnas Kaligangsa Wetan, Brebes. Lelaki itu sebetulnya mampu membeli motor atau mobil, tapi sepeda tua setia menemani dalam keseharian. Dia menganggap bersepeda tua memiliki nilai tersendiri. Seakan ada kesejukan batin dan bisa mengenang sang kakek yang juga penggemar sepeda.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: