Mau Sehat? Lestarikan Sepeda Tua


MEDAN—Pukul 07.30 WIB, Minggu pagi, di Taman Ahmad Yani Medan yang berada persis di seberang Bundaran Jalan Sudirman Medan, tampak berjejer tak kurang dari 30 buah sepeda tua. Rata-rata sepeda tersebut telah berusia antara 40 dan 70-an tahun.

Sepeda-sepeda yang terparkir itu antara lain bermerek Gazelle, BSA, Raleigh, Rudgie, Teha, The Hunt, Fongers, Simpley dan lain sebagainya. Semuanya tampak masih terawat rapi. Bahkan tak jarang yang ditambah dengan aksesori seperti speedometer, tas (baggage) dan lain sebagainya. Tapi sebagian besar di antaranya malah tampak masih seperti aslinya.
”Sepeda-sepeda tua seperti ini memang lebih butuh perawatan. Maklum saja, namanya juga sudah tua,” ujar Slamet (63), warga Helvetia Medan.
Menurut Slamet, sepeda tua adalah hobinya. Saat ini ia memiliki lima sepeda yang di antaranya bermerek Gazelle, BSA dan Raleigh. Rata-rata produk Belanda dan Inggris.
Tak hanya tua, harganya juga lumayan mahal untuk ukuran sepeda. Bayangkan, kini harga-harga sepeda tersebut sudah mencapai jutaan rupiah. Tapi yang namanya hobi, harga bukanlah suatu rintangan.
”Namanya juga hobi. Sepeda saya beberapa waktu lalu misalnya ditawar seorang pembeli sampai Rp 3 juta, tapi tidak saya lepas. Begitu juga beberapa sepeda teman lainnya, ada yang ditawar sampai Rp 5 juta. Malah mereka bilang, ditawari sampai 50 kali lipat dari harga itu pun tidak akan saya lepas,” ujar Slamet.
Menurut Slamet, ia mencintai sepeda tua karena sejak dulu masih bekerja pada perkebunan Belanda, ia sudah naik sepeda. Sehingga, meski sudah berusia lanjut, namun ia masih sanggup mengayuh berkilo-kilo meter jaraknya.
Bukan hanya Slamet yang telah berusia uzur yang suka bersepeda tua. Dodi (23), seorang pedagang burger di kawasan Jl Setia Budi Medan pun menggilai sepeda tua sejak delapan bulan lalu.
Ia bahkan merasa bangga bisa mengendarai sepeda bermerek Empo, produk Inggris pada awal abad ke-20 lalu itu. Kebanggaan itu terutama muncul ketika ia sedang mengayuh sepeda, tiba-tiba saja ia dipanggil oleh seseorang yang tak dikenal. Lalu orang tersebut bertanya-tanya tentang sepedanya hingga berniat membeli sepedanya itu.
Namun, lagi-lagi ia tak memberikannya. ”Waktu saya beli harganya hanya Rp 200 ribu. Tapi untuk memperbaiki, termasuk mengecat dan membeli aksesori lainnya, aku sudah habis lebih dari Rp 1 juta. Makanya waktu ada yang nawar Rp 2 juta, aku tak mau melepasnya,” tukas Dodi tersenyum.
Mulanya, kata Dodi, ia menyukai naik sepeda karena ketiadaan kendaraan. Padahal kendaraan menjadi penting baginya untuk belanja keperluan dagang burger setiap pagi. Akhirnya, ia mencari alternatif kenderaan di Pasar Sukaramai Medan. Dan … dapatlah sepeda kesayangan tersebut.
Hingga kini, ia telah memiliki dua buah sepeda tua. Selain Empo, ia juga punya sebuah Gazelle. ”Selain sehat, ekonomis dan bernilai historis, saya merasa nyaman dan bangga naik sepeda tua ini,” kata Dodi.
Hobi sepeda tua memang semakin ramai digemari di Medan. Hal ini terjadi sejak tahun 1993. Ketika itu, Taufan (40) baru saja pulang dari Yogyakarta mengikuti pelatihan di RRI.

Ketika sampai di Medan, ia melihat betapa banyaknya sepeda tua di kota perkebunan tua di masa penjajahan Belanda ini. ”Sebagai kota yang dulunya banyak perkebunan Belanda, tak heran bila di sini banyak peninggalan sepeda tua. Dari mulai produk tahun 1930-an hingga produk keluaran 1960-an, banyak terdapat di Medan,” jelas Taufan.
Setelah melihat hal itu, akhirnya ia pun mencari sebuah sepeda tua. Ia dapat sebuah sepeda bermerek Gazelle. Dengan sepeda itu, ia kemudian membentuk sebuah perkumpulan bernama Medan Sepeda Antik Club (MESAC). Lembaga ini beralamat di Jalan Sutomo Ujung No 3/6 Medan.
Lewat perkumpulan ini, secara perlahan ia mulai aktif menyosialisasikannya hingga kini seluruh anggotanya berjumlah 40 orang dengan jumlah sepeda tua lebih dari 100 unit.
”Sebab, kadang-kadang satu orang punya lebih dari satu sepeda,” kata Taufan.
Sayangnya, saat ini sepeda tua di Medan agak sulit didapat. Sebab para pencinta sepeda tua yang ada di Pulau Jawa mencari sepeda juga ke Medan dan sekitarnya. Makanya, secara perlahan mereka menggalakkan kecintaan terhadap sepeda tua.
Langkah lain untuk menahan laju kepunahannya, mereka juga membentuk sebuah organisasi yang bernama Ikatan Sepeda Tua Indonesia (ISTI). Lembaga ini beralamat sama dengan MESAC.
Organisasi ini setiap minggunya kumpul di Lapangan Merdeka pada pukul 07.00 WIB. Dari sini mereka biasanya pergi ke suatu tempat yang ditentukan pada saat berkumpul tersebut. Setelah itu, secara bergerombol, mereka pun mengayuh pedal sepeda. Jaraknya bisa dekat bisa juga jauh.
Tapi belakangan ada program yang mereka kembangkan. Yakni mengunjungi rumah anggotanya yang rata-rata tersebar di pinggiran kawasan kota Medan. Di sana mereka membuat acara makan-makan dan sebagainya.
”Jadi selain memperkuat tali silaturahmi, kita juga sehat karena mengayuh sepeda dengan jarak tempuh yang jauh tapi nggak terasa,” ujar Taufan yang kini menjadi sebagai Ketua MESAC dan ISTI Sumut.
Selain itu, mereka juga mulai mempelajari karakteristik sepeda-sepeda tua tersebut. Misalnya saja seperti lis (garis) pada batang sepeda dan lain sebagainya. Sehingga secara perlahan, mereka sudah punya orang yang mampu memperbaiki sepeda tua yang kini coba mereka lestarikan.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: