Keliling Kota Tua dengan Sepeda Kumbang

Berkeliling Jakarta yang macet, panas, dan berdebu bukanlah perkara menyenangkan. Namun sangat berbeda kalau
kita bersepeda kumbang mengelilingi kawasan kota tuanya. Seolah kita berada dalam setting film Doea Tanda Mata.
Mengasyikkan dan yang jelas menambah wawasan.
Itulah yang Travel Club (TC) rasakan saat mengikuti acara bertajuk “Menguak Jejak Orang Arab di Batavia” beberapa
waktu lalu bersama dengan komunitas pencinta sejarah, KPBSI Historia. TC dan 50 peserta lainnya mengunjungi
kawasan Kampung Arab di daerah Pekojan, Jakarta Utara. Kawasan ini, tempo doeloe menjadi pemukiman para
pendatang dari Timur Tengah dan India sekaligus menjadi basis penyebaran agama Islam di Batavia.
Seluruh peserta acara berkumpul di Museum Bank Mandiri. Di bangunan bergaya Art Deco klasik dengan luas 21.509
m2 ini panitia memberikan pengarahan. Setelah mengikuti briefing sejenak, seluruh peserta langsung menaiki ojek
sepeda yang telah disediakan panitia. Maklum jarak yang harus ditempuh lumayan jauh sekitar 6 Kilometer. Para
pengojek sepeda tua yang biasa mangkal di sekitar Stasiun Kota, hari itupun kecipratan rezek karena disewa panitia.
Rute pertama rombongan melewati jalan di tepi Kali Besar dengan jalan beriringan. Sepeda kumbang yang ditumpangi
peserta sengaja dipacu perlahan sambil mendengarkan keterangan Asep Kambali, ketua Komunitas Historia. Menurut
Asep, kali yang berada di kawasan kantor-kantor dagang zaman VOC dulu ini merupakan bagian kanal yang dibangun
oleh JP Coen untuk sarana transportasi, benteng pertahanan, dan tempat mengalirkan air Sungai Ciliwung saat banjir.
Rombongan lalu bergerak menuju kawasan Pasar Pagi Lama kemudian ke Jalan Pengukiran. Kawasan padat
penduduk ini dihubungi oleh gang-gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh motor atau sepeda. Di Jalan pengukiran II
terdapat Masjid Al Anshor. Masjid yang dibangun pada tahun 1648 ini dulunya dikenal dengan Masjid Pengukiran, baru
pada 1 Januari 1971 diberi nama Al Anshor. Masjid ini dibangun oleh para pendatang Malabar India yang beragama
Islam. Di halaman depan masjidnya ada 3 makam tua bergaya Moor yang sayangnya tidak diketahui identitasnya.
Selanjutnya rombongan beranjak menuju Gang Pekojan Kecil II. Ternyata di gang kecil ini terdapat sebuah masjid
bernama Raudah yang dibangun tahun 1907. Masjid ini menjadi basis sebuah organisasi pendidikan Islam bernama
Jamiatul Khair. Seperti masjid-masjid yang didirikan oleh para pendatang dari Timur Tengah, masjid ini pun mempunyai
ciri khas yang sama yaitu tempat mengambil air wudhu yang menjorok ke bawah berupa kolam berukuran cukup besar.
Bentuk asli kolam itu masih dipertahankan termasuk besi-besi teralis jendela masjid.
Selain masjid, warisan orang Arab muslim dari Timur Tengah yang pandai berdagang dan aktif menyebarkan agama
Islam lainnya berupa rumah-rumah bernuansa Moor. Namun sayang, sedikit sekali yang masih terawat baik. Salah
satunya rumah keluarga Almarhum Shaleh Aljufri yang berada di sebelah kanan Masjid Zawiyah. Masjid ini didirikan oleh
Habib Ahmad bin Hamzah Alatas yang lahir di Yaman Selatan. Penduduk keturunan Arab atau India yang dulu
menempati kawasan ini sudah banyak yang pindah. Belakangan jutsru kawasan Pekojan ini lebih banyak dihuni warga
keturunan Tionghoa dan para pendatang lainnya.
Tak jauh dari Masjid Zawiyah juga terdapat masjid tua An-Nawier yang dibangun pada tahun 1760. Masjid ini masih
mempertahankan bentuk arsitektur lamanya termasuk pilar-pilar penyangga dan sebuah menaranya. Masjid yang
didirikan oleh ulama bernama Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus ini lebih dikenal dengan nama Masjid Pekojan.
Dengan daya tampung 1000 jemaah, masjid ini menjadi salah satu mesjid terbesar di Jakarta Barat.
Di atas Kali Angke tak jauh dari Masjid Pekojan, terdapat Masjid Langgar Tinggi. Ketika didirikan pada tahun 1829,
mesjid ini berlantai 2 dan menyatu dengan Kali Angke sehingga jamaahnya dapat mengambil wudhu dari air Kali Angke.
Masjid ini dibangun oleh Kapitan Arab bernama Syeik Said Naum.
Menurut Asep Kambali, kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan keberadaan bangunan-bangunan klasik yang
telah menjadi bagian dari sejarah dan perkembangan ibu kota Jakarta. “Dengan acara semacam ini setidaknya
menggugah orang untuk turut serta menjaga dan melestarikannya,” jelas Asep.
Ida, salah satu peserta merasa senang mengikuti jalan-jalan keliling kota tua dengan sepeda kumbang. Gadis yang
bekerja sebagai staff UNICEF ini mengaku mendapatkan wawasan baru. “Ada pengetahuan baru yang aku dapat
tentang sejarah, selain tentunya teman-teman baru,” jelasnya. Gadis berambut pendek ini berharap makin banyak pihak
termasuk pemerintah yang peduli dengan keberadaan bangunan-bangunan tua dan bersejarah khususnya di Jakarta
agar bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.
Kalau anda berminat keliling kota tua Jakarta, ikuti saja acara yang diadakan Komunitas Historia. Pilihan lain pergi
dalam kelompok kecil atau sendiri dengan menyewa ojek sepeda kumbang.
Dari Terminal Blok M anda bisa naik bus transjakarta busway ongkos Rp 3.500 per orang turun di halte stasiun Kota.
Kemudian menyewa sepeda kumbang yang ada di depan Stasiun Kota untuk diantar ke beberapa objek bangunan tua
hingga kawasan Pekojan. Tarifnya sekitar Rp 25.000 per orang.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: