Jangan Tertukar dengan Sepeda Lintas Alam

Jakarta – Komunitas sepeda gunung atau mountain bike (MTB) tumbuh subur di Indonesia. Tak sulit mencari komunitas yang memakai sepeda bertampang gagah ini. Hanya saja, kita bisa bertemu dengan mudah pada beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bogor dan Bandung.
Di negara kita, sepeda gunung lazim dibagi menjadi tiga: cross country (lintas alam), downhill (menuruni bukit) dan free ride. Menurut Julian Prasetyo, di Indonesia banyak dipertandingkan kelas cross country dan downhill. ”Dari dua kelas ini, mungkin cross country lebih banyak dilombakan dibanding downhill.” Julian beralasan seperti itu didasarkan pada jumlah peminat dan penggemar sepeda lintas alam yang jauh lebih banyak. Lagipula, dari segi risiko dan biaya perlengkapan juah lebih rendah.
Sepeda downhill dirancang khusus. Sepeda jenis ini mengorbankan keringanannya untuk menunjang kekokohannya. Biasanya, berjenis full supension bike. Maksudnya, ada peredam kejut di bagian depan dan belakang,” ujar Bowo, penggemar sepeda MTB dari komunitas Wemin Semeru Bike. Fungsi kedua peredam kejut itu untuk lebih menjaga kemampuan kontrol, kekuatan menahan beban dan traksinya. Itu sebabnya, daya travel peredam kejut ini mencapai 7 inci.
Perhatian lain, soal sistem pengereman. Melihat risiko dan medan yang dijelajahi, sepeda downhill memakai rem cakram. Maklum, gravitasi menjadi sobat karib, jadi kemampuan rem sangat diperhitungkan.
Di bagian crank – lengan ayun untuk mengayuh sepeda terpasang pada botom bracket dan di ujung satunya lagi terpasang pedal, punya spesifikasi khusus. Sepeda downhill hanya memiliki satu piringan chainwheel (piringan bergerigi yang berada pada chainset/komponen crank). ”Karena itu, sepeda ini tak bisa dipakai buat nanjak. Biasanya, kalau ke bukit sepeda diangkut dengan mobil,” ujar Bowo sambil tersengal-sengal menuntun sepeda downhill saat menaiki puncak bukit R21 di Bukit Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Pada beberapa lokasi downhill memang punya lintasan untuk kendaraan roda empat bak terbuka sebagai angkutan sepeda dan pengayuhnya. ”Kalau di luar negeri, treknya asyik. Full turun. Udah gitu, kalau naik ke puncak bukit ada fasilitas cable car,” sebut Rudy Ogel, pehobi sepeda downhill dari Jakarta. Negera kita fasilitas angkutan canggih seperti itu memang belum ada. Tapi, di beberapa lokasi, seperti Bandung, Gunung Mas (Puncak) dan Sentul memiliki akses jalan untuk kendaraan roda empat.
Dengan tuntutan spesifikasi yang khusus itu komponen sepeda downhill menjadi mahal. Bila dihitung-hitung, harga satu set sepeda yang siap bisa dipakai bermain, harganya mulai dari Rp 16 juta. ”Harga segitu kita udah bisa dapat sepeda yang cukup kompetitif. Tetapi kenyataannya, ada juga yang pakai sepeda yang harganya lebih rendah,” sebut Goestarmono dari komunitas sepeda Zero Tutu 022, Bandung.
Rudy Ogel punya sepeda downhill yang dibeli secara peretelan alias terpisah (knock down). Kerangka sepeda (frame geometrical) merek Norco buatan Kanada dibelinya saat ada pesta diskon di negara tetangga, Singapura. Untuk dua peredam kejut (depan-belakang) nilainya sekitar Rp 5 juta. Di depan, Rudy pakai merek Boxer Rockshock sedang belakang pakai merek Fox. Pelek, tak kurang dari dua juta rupiah. Sistem hidrolik, antara Rp 2 – 2,5 juta. ”Untuk komponen lainnya, sekitar Rp 5 juta,” ujar Rudy, mesem-mesem.
Seorang pemain sepeda downhill harus melengkapi dirinya dengan alat-alat keamanan. Karena risiko yang ditimbulkan lebih ekstrem dan berbahaya, semua pehobi kawakan selalu cerewet soal perangkat keamanan ini.
”Risiko yang besar, (pemain sepeda) downhill harus menggunakan perlengkapan pengaman diri yang komplet. Helmnya full face, lalu juga pakai body protector,” ucap Julian Prasetyo yang diamini pehobi sepeda downhill lainnya. Pelindung dada dan tulang belakang wajib dikenakan. Lalu masih ditambah pelindung siku, pergelangan dan tulang kering. Sepatunya juga khusus. Bila sudah siap berlaga, jangan lupa pakai kacamata (google) dan sarung tangan.
Jangan dulu berhenti menghitung. Bujet pembelian perlengkapan keselamatan itu juga tak murah. Sondi – pehobi asal Jakarta – memberi contoh, helm full face (sekitar Rp 1 juta), body protector komplet (Rp 1 – 2 juta), sepatu (sekitar Rp 500 ribu), kacamata (tak lebih dari Rp 1 juta) dan sarung tangan (sekitar Rp 200 ribu). Nah, sekarang silakan hitung sendiri bujet yang harus dikeluarkan seorang pehobi sepeda MTB jenis downhill.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: