Klub Sepeda Gunung Avtech Bersepeda hingga Puncak Gunung Gede



CIPANAS – Mendaki gunung dengan cara berjalan kaki lazim dilakukan petualang. Pemanjatan puncak gunung pun jamak dikenal. Namun, mendaki gunung dengan membawa sepeda ke titik tertinggi jarang dilakoni. Maklum, bagi sebagian petualang cara ini dianggap merepotkan. Perkaranya, membawa perlengkapan pendakian saja sudah repot apalagi harus dibebani dengan memanggul sepeda.

CIPANAS – Mendaki gunung dengan cara berjalan kaki lazim dilakukan petualang. Pemanjatan puncak gunung pun jamak dikenal. Namun, mendaki gunung dengan membawa sepeda ke titik tertinggi jarang dilakoni. Maklum, bagi sebagian petualang cara ini dianggap merepotkan. Perkaranya, membawa perlengkapan pendakian saja sudah repot apalagi harus dibebani dengan memanggul sepeda.
”Tapi justru di situlah seninya. Lagi pula bersepeda kan termasuk hobi yang sehat, nah kenapa nggak kita padukan saja” kata Yudi Kurniawan – punggawa Klub Sepeda Gunung Avtech. Petualang kawakan ini yakin bila dua kegiatan itu dipadukan akan menarik perhatian orang. Dari sini, Yudi mengajak tujuh rekannya untuk menjajal medan pendakian Gunung Gede (2958 mdpl) dengan cara membawa sepeda.
”Sebetulnya nggak semua anggota tim bawa sepeda. Kita cuma bawa dua sepeda, tapi tiap orang bisa bergantian bawa sepeda ke puncak (Gunung Gede),” ujar Yudi kepada SH di sela pendakian, akhir pekan lalu. Lewat perhitungan cermat, Yudi dan kawan-kawan sepakat untuk menempuh rute pendakian dari Gunung Putri, Cipanas. Alasannya sederhana: jalur Gunung Putri relatif lebih cepat untuk menggapai puncak, meskipun tantangan yang harus dihadapi medan pendakian yang berat.
Iwan Budiyanto–salah seorang anggota klub sepeda gunung Avtech–malahan punya gawe lain: bersepeda dari kawasan Danau Sunter, Jakarta Utara hingga Puncak Gunung Gede, pergi pulang. Akhirnya, disepakati sambil menunggu Iwan, Yudi dan anggota tim lainnya beruji coba bersepeda gunung di kawasan Curug Panjang, Mega Mendung, Bogor pada Rabu (1/9) lalu. Kawasan ini dikenal sebagai hutan wisata yang dikelola pihak Kehutanan Bogor.
”Uji coba ini cukup asyik. Kita sempet nyobain variasi medan tanjakan dan turunan sambil latihan memanggul sepeda sebelum mendaki Gunung Gede,” kata Yudi. Dari jalan raya Bogor–Puncak, Curug Panjang dapat menyajikan medan beraspal hingga berbatu-batu, komplet dengan tanjakan serta turunan. Lantaran terlalu asyik menggenjot sepeda di sebuah turunan, Yudi sempet ”mencium” rumput di pinggir jalur. ”Ah, nggak apa-apa kok, cuma sedikit lecet aja di kaki nih,” ujarnya sambil meringis.
Beres beruji coba, hari berikutnya tim sepeda gunung Avtech segera ”kabur” ke pos pendakian Gunung Putri, Cipanas. Kebetulan, di saat yang sama, Iwan Budiyanto telah tiba. Usai memulihkan kondisi, dia pun segera bergabung dengan anggota tim lainnya. ”Gue ambil jalur biasa, dari Danau Sunter terus masuk By Pass dan Cililitan, habis itu lewat jalan raya Bogor. O, ya gue sempet nginap di Ciawi,” ujar Iwan yang berencana bersepeda ke Kalimantan dan Sulawesi pada awal 2005.
Di Pos Gunung Putri, tim ini disambut M. Said – pentolan Gunung Gede Operation (GPO), organisasi relawan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP). Rencananya, selama pendakian Said akan terus memantau pendakian tim Avtech dari pos GPO. Jadi bila sampai terjadi sesuatu, koordinasi penyelamatan dapat cepat dilakukan.
Beres urusan komunikasi dan prosedur penyelamatan darurat, Yudi segera mengecek perlengkapan dan peralatan keamanan seluruh anggota tim. Dia tak ingin ada anggota yang sembrono dalam melakukan pendakian nanti. Untungnya, Devi Rahardiono dan Deden Sutisna dari True North – lembaga pendidikan alam terbuka dari Bandung – datang untuk membantu ekspedisi kecil ini.

Tanjakan Terjal
Jalur Gunung Putri memang tak ada kompromi dan pelit jalan datar. Dari awal, kami sudah disuguhi tanjakan, ada yang seperti undakan tangga hingga ada yang terjal dengan medan berbatu-batu dan sisa akar pohon yang melintang. Sepeda hanya bisa dipakai hingga batas antara kebun masyarakat dengan hutan TNGP.
Untuk mencapai pos pusat informasi Gunung Putri sepeda harus dipanggul. Di shelter berikutnya, caranya masih tetap sama: panggul sepeda. Iwan Budiyanto dan Hendra terlihat kerepotan mengatur napas saat melintasi tanjakan antara shelter 4 Lawang Seketeng (2.500 mdpl) hingga shelter 5 Simpang Maleber (2626 mdpl). Meski jaraknya hanya 1 kilometer, tetapi tanjakan yang harus dilahap medannya benar-benar bikin kesal. Terjal dengan rintangan akar-akar pohon yang melintang di tengah jalur. Sebagai informasi, jarak antara pos Gunung Putri hingga shelter 4 sekitar 3,1 kilometer. ”Sebelum Lawang Seketeng, tanjakannya nggak terlalu curam sih. Jadi, kita nggak terlalu ngos-ngosan, tapi habis itu tanjakannya betul-betul bikin capek,” sebut Deden Sutisna saat beristirahat di shelter 5 Simpang Maleber. Lepas dari shelter 5, rute tanjakan belum usai. Tetapi tidak seterjal yang sebelumnya.
Lantaran terbilang langka, kabar pendakian Gunung Gede dengan membawa sepeda sudah tersiar ke mana-mana. Saking penasaran, beberapa penduduk sampai mengikuti perjalanan kami. Mereka seperti tak habis pikir, kenapa ada orang yang mau bersusah payah bersepeda ke puncak gunung. Saat melihat sepeda lebih sering dipanggul, mereka pun berkomentar,” Ini mah namanya sepeda naik orang.”
Keheranan dan ketakjuban juga menyelimuti peserta dan panitia Jambore ”Jejak Petualang”. Tayangan dokumenter yang disiarkan TV 7 ini kebetulan pada saat yang sama sedang menggelar ajang kumpul komunitas penggemar mereka. Rute pendakian yang mereka lalui, mendaki dari Gunung Putri dan turun lewat jalur Cibodas. Sebagai pusat kegiatan, terpilih Alun-alun Barat Surya Kencana – lembah dengan hamparan rumput dan tanaman eidelweiss di antara Gunung Gumuruh dan Puncak Gunung Gede.
”Biar capek tapi gue puas banget. Akhirnya, impian kami tercapai sudah: bersepeda hingga puncak (Gunung) Gede,” ujar Yudi dengan napas tersengal begitu menginjak titik 2958 mdpl. Bersama Iwan, Hendra, Hesti dan Murni, dia bersujud syukur dan saling mengucapkan selamat. Dan mereka pun bolak-balik jalur datar di gigir kawah Gede yang legendaris itu. Selamat ya.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: